Minyak Goreng Curah Timbul Kontroversi

SUBANG- Beritaaktualnews. Com- Kebijakan pelarangan minyak goreng curah mulai tahun 2020 timbulkan kontroversi. 


Baik dalam penerapannya, maupun wacana penyetopan edaran minyak goreng curah menjadi pertanyaan besar. 


Hal teraebut juga mendapati penolakan dari masyarakat Subang, dan mereka yang berprofesi sebagai pedagang minyak goreng curah, dan pelaku usaha kecil seperti basi goreng, dan gorengan juga ikut bersuara. 


Menurut  Haji Mimin Mintarsih (64) pedagang minyak curah di pasar tradisional Subang, yang berpendapat bahwa kebanyakn pelanggannya lebih memilih curah ketimbang minyak goreng pabrikan. 


“Harga yang lebih murah mempengaruhi, pelanggan saya kebanyakan rakyat kecil, jika harus beli minyak goreng pabrikan (kemasan) belum mampu, jadi saya sangat tidak setuju jika tahun depan minyak curah dihilangkan,” ujar Mimin.


Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita buka suara.


“Dalam pernyataannya kepada wartawan, Enggar meluruskan kontroversi terkait kebijakan yang dicetuskannya itu.
Minyak goreng curah tak akan ditarik dari pasaran. Namun, penjualannya nanti harus dikemas dalam suatu kemasan sederhana.

Adapun harganya, minyak goreng curah dalam kemasan dipatok menye

suaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 11.000 per liter mulai tahun depan.
Produsen wajib membuat migor (minyak goreng) kemasan sederhana dengan HET Rp 11.000. Migor curah masih boleh beredar,” pungkas Enggar ( bds)

Bagikan: